Rabu, 08 November 2017

Fenomena Banjir Air Laut dan Harapan Air Bersih



Naiknya Air Laut termasuk gejala Pasang Keeling hingga mencapai pemukiman warga di areal Pesisir Kota Dumai bukanlah sesuatu yang baru terjadi. Tapi kini menjadi Fenomena karena datangnya bukan sebagaimana terdahulu hingga selang waktu 3 hingga 5 tahun.
Setelah bulan Oktober 2017 masyarakat Dumai mesti menghadapi Bah Air Laut hingga 3 kali dalam satu bulan, di awal November 2017 masyarakat kembali menghadapi Air Asin Laut yang berpotensi menyebabkan Korosin pada kendaraan bermesin.
Banjir Air Laut ini tentu menjadi keluhan bagi masyarakat selain banjir akibat Hujan lebat. Hanya saja jika harus memilih tentu Air Hujan lebih diharapkan karena secara langsung memberikan kebutuhan masyarakat akan Air Bersih. Hujan yang baru-baru ini turun terasa melepas dahaga masyarakat akan Air Bersih. Karena tidak seperti biasanya dari bulan September hingga Oktober justru hujan tidak turun. Seperti nya ini menjadi catatan Fenomena baru bagi Dumai. 
Terlepas dari faktor Alam dan gejala baru yang muncul ini, sekali lagi tentunya masyarakat berharap banyak kepada pemerintah untuk mengatasi persoalan Banjir dan wujudnya ketersediaan Air Bersih yang merata.
Persoalan ini tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah daerah, tapi pemerintah pusat di harapkan peduli dan dapat membantu mengatasi persoalan ini.
Meski banyak persoalan yang mesti di hadapi dengan berbagai kendala termasuk Keuangan, tapi Rasanya masyarakat Dumai sangat berharap dua persoalan pokok ini segera dapat teratasi,-(*4).
Keterangan Poto : Kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang terletak di Jalan Sultan Hasannudin/Jalan Ombak Lama Kota Dumai Provinsi Riau. Endapan lumpur dan dangkalnya sungai yang menjadi kendala lain mudahnya air menjangkau pemukiman warga sekitar. (Poto: Ramzi Lentera Putih-LEPU).